oleh

Histori Perayaan Ala Baloe Bampalola Kabupaten Alor


Kalabahi, ALORPINTAR.COM. Sekitar tahun 912 Moyang Bangpalol Mo, turunan ke 27 dari orang pertama di pulau alor tercinta, moyang Raja Tanah (Afen Faae / Afen = Raja, Faae =Tanah) dan Putri Matahari (Bui Fed /Bui = Putri. Fed = Matahari), yang pada saat itu tinggal di Maebang, Ibu Kota Desa Bampalola sekarang. berburu dengan anjing buruannya ke satu tempat yang bernama Tula Gadong (Tula : tinggi, Gadong : Bukit), sesampainya ke tempat itu anjing-anjingnya menggonggong di bawah satu pohon asam besar ketika beliau ke tempat itu di amati dari jauh ternyata bukan binatang buruan yang di gonggong oleh anjingnya, tetapi ada sebuah moko yang berada di bawah pohon yang sedang dikerumuni oleh anjingnya sambil menggonggong, setelah sampai dekat dengan moko tersebut, beliau berkata dalam hati bahwa “seandainya moko ini adalah pemberian moyang-moyang terdahulu dan ini petunjuk Lahtal (Allah) maka sekembalinya saya ‘’kata Bangpalol Mo’’ dari perburuan ini, moko ini tidak hilang atau masih ada, tapi seandainya ini adalah cobaan atau ujian dari jin syaitan maka sekembalinya saya dari perburuan ini, moko ini sudah tidak ada”. Saat beliou masih ditempat dimana moko itu berada, dari kejauhan sayup sayup terdengar suara anjing-anjingya menggonggong, beliaupun beranjak dari tempat itu mengikuti arah suara anjingnya datang, sesampainya di tempat itu bukannya binatang yang di gonggong oleh anjing anjingnya, tetapi dilihat dari jauh ternyata yang dia lihat adalah sebuah tiang rumah yang sudah di ukir rapi nan indah sedang berdiri tegak di tengah semak belukar, beliaupun mendekati tiang itu seraya berkata bahwa ini adalah petunjuk Lahtal (Allah) dan nenek moyang kepadaku untuk membuat rumah dengan tiang ini dan membentuk kampung di tempat ini maka beliau berpesan “
Jika benar ini semua adalah petunjuk yang baik maka setelah seminggu saya datang di tempat ini tiang ini masih berdiri tetap di tempat yang sama, tetapi seandainya ini adalah ujian dari syaitan dan iblis berarti seminggu saya datang tiang ini sudah hilang atau sudah tidak ada lagi di tempat ini”. Kemudian Moyang Bangpalol Mo pun memanggil anjing-anjingnya dan kembali ke tempat tinggalnya di Maebang.
Hari berganti hari, satu minggu pun telah tiba beliau memanggil anjing-anjingnya dan berangkat ke tempat yang sama yaitu di Tulagadong tempat beliau bertemu moko dan tiang itu. Sesampainya di tempat itu ternyata dilihat moko yang ditemui minggu lalu masih berdiri di tempatnya dan tidak bergeser dan beliaupun mengambil moko tersebut dan di beri nama Eymala Tamerumba, yang berarti Moko Eymala yang di dapat di bawah pohon asam.


Kemudian beliau menuju ketempat dia bertemu tiang, sesampai nya beliau di tempat tiang tersebut, ternyata tiang itupun masih tetap berdiri di tempatnya,sebagai mana yang ia temukan pertama kalinya.
Moyang Bangpalol Mo membawa Moko Tamerumba ke Maebang dan menyampaikannya kepada orang tuanya, Palol Moafen, istri dan anak-anaknya bahwa sekarang ini kita sudah tidak bisa lagi hidup berpindah-pindah, karena sudah ada petunjuk dari Lahtal (Allah), dan dari nenek moyang yang lalu yang di tandai dengan Moko Eymala Tamerumba dan satu buah tiang yang sudah di ukir rapi nan indah yang berada di Tulagadong. Atas restu dan kesepakatan orang tuanya Palol Moafen, Istrinya Buipen dan putra-putranya ;
1. Hale Bangpalol (Hulnani)
2. Muda Bangpalol (Hulnani)
3. Utang Bangpalol (Alor Besar/Bang Mate)
4. Adang Bangpalol (Alor Kecil/ Bang Atina)
5. Tei Bangpalol (Lewalu/Laei Fal); dan
6. Mo Bangpalol (Bampalola/ Bang Palol)
7. Di tambah dengan Sepuluh yang tinggal di bukit lain datang membantu dan berbondong-bondong berhijrah dari Maebang ke Tulagadong dan menetap di sana.

Di Tulagadong inilah Moyang Bangpalol bersama Istri dan Putra-putranya mencari tiga tiang dan ramuan-ramuan lainnya untuk membangun sebuah rumah yang tinggi dan besar yang di beri nama “TULA BANG” artinya Rumah yang Tinggi yang kemudian di beri nama “LAKATUIL” hingga sekarang.
Setelah rumah Tula Bang atau Lakatuil ini bangun, saudara-saudara, sepupu-sepupu yang tinggal di tempat lainpun berdatangan atas perintah Moyang Bangpalol, mereka diprintahkan untuk membuat rumah masing-masing di Tulagadong dan tinggal bersama untuk membentuk sebuah kampung yang di beri nama “Kampung Bangpalol” sesuai dengan nama penemu tiang ajaib tersebut di atas.
Kampung Bangpalol sendiri mempunyai arti : Bang Artinya Kampung/Rumah. Palol Artinya Pemali/keramat/bertuah. Jadi, Bangpalol artinya kampung Pemali dari turun temurun sampai sekarang.
Apabila kita ke kampung Bangpalol di Tulagadong, maka berhati-hatilah dalam bertutur kata dan melangkah, apabila keliru atau salah kata dan langkah maka resikonya adalah sakit dan sanksi adat berlaku atas kekeliruan yang telah kita perbuat baik disengaja atau tidak sengaja.

Di era modern saat ini dari kampong Banpalol di Tulagadong, berkembangbiak keluarga besar Bangpalol menjadi banyak dan akhirnya sebagian besar keluarga berpindah ke Maebang dan menetap disana, pada tahun 1995 Bangpalol yang dulunya hanya serumpun keluarga kecil, tumbuh menjadi sebuah Rukun Kampung dimasa pemerintahan Hindia Belanda, dibawah ketemukungan Dulolong/ An bang, kemudian menjadi sebuah Dusun dibawah pemerintahan Desa Ampera, lalu menjadi sebuah Desa Devenitif sampai sekarang dengan nama “DESA BAMPALOLA” / di samarkan. Namun Tetap menjaga keutuhan nilai-nilai kebudayaan dan tetap menjaga kampung lama Bangpalol sampai sekarang.

Sistem Pemerintahan Adat masih berlaku dan dijalankan oleh masyarakat dari berbagai segi sampai detik ini di Desa Bampalola. Biasanya pemerintahan adat ini dilaksanakan apabila ada upacara adat, dan apabila ada anggota masyarakat yang melanggar hukum adat maka pemerintahan adat yang bertugas memberikan hukuman. Keadaan pemerintahan adat di desa Bampalola sampai sekarang masih berjalan dengan baik dan ditaati oleh semua warga di desa adat Bampalola.
Diantara keunikan seni budaya yang dimiliki Desa Bampalola, salah satunya adalah “ Upacara Ritual Adat Makan Baru Padi (Ala Baloe) dengan tujuan:
1. Mensyukuri nikmat Allah melalui hasil panen padi, khususnya kepada masyarakat adat Bamplola yang dilaksanakan setelah pasca panen setiap tahun.
2. Menghalalkan bagi tua-tua adat/istri para sulung suku ke 5 suku untuk memakan padi baru dalam satu tahun bercocok tanam.
3. Mengingat dan mengenang kembali jasa moyang Loin Tang dan para leluhur yang telah mendahului/ meninggal dunia.
4. Sebagai wahana/ momentum dalam memupuk persatuan dan kesatuan dalam sesama rumpun keluarga besar Bampalola khususnya dan umumnya di wilayah Nuh Atina yakni :
a. Adang bang Eirnu (10 Kampung Adang),
b. Pul Bang Itito (7 Kampung Pura) dan;
c. Ail Bang Tou (3 Kampung Alor).
5. Memupuk dan meningkatkan rasa solidaritas sesama manusia dan mencintai adanya seni budaya peninggalan para leluhur.

Kegiatan ritual adat Makan Padi Baru (Ala Baloe) termasuk salah satu kegiatan wajib tahunan bagi warga masyarakat Desa Bampalola yang selalu dan senantiasa dilaksanakan secara rutin pada setiap tahun setelah musim panen.

Bentuk kegiatan Ritual Adat Makan Baru Padi (Ala Baloe)

Di Rumah Adat Fet Lakatuil dilangsungkan Ritual Adat Makan Padi Baru (Ala Baloe) secara sacral setiap satu tahun sekali, dengan maksud untuk menanamkan rasa persatuan dan kesatuan serta mensyukuri nikmat Tuhan yang Maha Esa. Dalam persiapan Makan Padi Baru (Ala Baloe) dilaksanakan secara musyawarah dan mufakat, tempat untuk bermusyawarah adalah di Bu De’k yang artinya Bale-bale adat yang alasnya terbuat dari belahan pinang yang terletak didepan Rumah Adat Situs Fet Lakatuil.
Dalam melaksanakan persiapan upacara Ritual Adat makan Padi Baru dilaksanakan dengan dua kali musyawarah antara lain:
1. Musyawarah penetapan jadwal Panen Padi di Kebun/Lahan
Strategi bermusyawarah adalah sebagai berikut:
1). Delegasi Suku Raja (Afen Lelang) duduk pada sudut kiri tiang yang pertama Bu De’k
2). Delegasi Suku Kapitang (Lamuil Lelang) duduk pada sudut kanan bagian depan Bu De’k
3). Delegasi Suku Marang Lelang (Alemate & Foebe) duduk di dekat tiang yang ke empat Bu De’k
4). Delegasi Suku Kafing Lelang duduk di bagian tengah Bu De’k
5). Delegasi suku Mor Lelang duduk bersama-sama dengan Delegasi Suku Kafin Lelang.

Dari setiap delegasi yang diutuskan oleh masing-masing suku tersebut memiliki peran berdasarkan status / kedudukannya, pada saat pelaksanaan Upacara Ritual Adat Makan Padi Baru (Ala Baloe).

Dalam musyawarah pertama ini, Bahasa-Bahasa Adat Yang Disampaikan Masing-Masing Delegasi Pada Musyawarah Penetapan Jadwal Ritual Panen Padi Baru (Ala Atuir) adalah sebagai berikut.
1. Suku Kafin Lelang
Ala Telmi Butmi Ten am, I dai Utanut Mamang.
“Padi di kebun dan ladang sudah menguning, jadi kalian(saudara-saudara) coba pikirkan bersama”.
2. Suku Lamuil Lelang
Na afail Telmi Butmi Fed Poil, Noi Poil Toh Ten am Pi edun Tom Esah Bi.
“ Biji-bijian(padi)/Tanaman padi di ladang dan kebun kena matahari dan hujan sudah menguning, kita lihat sangat memprihatinkan”.
3. Suku Marang Lelang
Honin He’ Pi O don Sel O tareng Pa’.
“ Kalau demikian kita tetapkan minggu dan harinya (jadwalnya)”.
4. Suku Afen Lelang
Pi O sel Meng Don Nu Ta.
“ Kalau demikian kita tetapkan jadwalnya satu minggu lagi”.
5. Suku Mor Lelang (Maniro)
I’ubang Honin he Na Sam Name Tofang Aramateng Don Nu Ta He’e Pi Ala Atuir ”Kalau kalian sudah sampaikan demikian(jadwalnya), maka saya pergi umumkan kepada orang banyak (warga adat bampalola) bahwa kegiatan pungut padi di ladang akan dimulai satu minggu lagi”.
2. Syair-Syair adat dalam Ritual Adat Panen Padi Baru (Ala Atuir)

Seminggu kemudian, Kegiatan panen pun dilaksanakan dengan penuh rasa suka cita dengan melantunkan Syair-Syair Adat (Pepel) antara lain sebagai berikut:
1). Lang Be Hol, Loin Lu Malang
“ karena sudah lama kita tanam, maka sekarang sudah menguning”.
2). Pi Tel Mi Ad, But Mi Atain
“ kita lepas di kebun dan ladang”.
3). Sam Lufangsah, Fed Fe Sabor
“ sudah lama ia pergi kini telah kembali”.
4). But Leho, Tel Mi ma Dong
“ datang dari kebun muncul dari ladang”.
5). Oil Dol Fel Dofe Peit “siapkan tempat atau lubangnya”.
6). Ebang Afoh Dofe Mi “sambut dengan baik dan simpanlah ketempat yang telah tersedia”.
7). Honin Bang Emeng, Pelang Ane Fail “untuk diabadikan demi harumnya nama kampung halaman”.
8). Hilang Diang Be Balol Atet “hasilnya digunakan untuk kegiatan ritual adat makan padi baru(Ala Baloe)”.
3. Musyawarah Kedua Ritual Adat Makan Baru Padi (Ala Baloe)

Setelah hasil panen dibawa kekampung, Sang Raja memanggil maniro untuk memberitahukan kepada kepala suku atau sulung suku Kapitang, Marang dan Kafin untuk berkumpul kembali di Bu De’k untuk musyawarah terkait penetapan jadwal upacara adat makan padi baru, Maka di adakan musyawara h kedua untuk menentukan waktu pelaksanaan upacara ritual adat makan padi baru (Ala Baloe) dengan tatacara sebagai berikut:
1). Afen Lelang (Suku Raja)
“Ala atuir bate hor no am, pi ho’ bangmi lelang mi am. Pi baloe o ul toh, o nemang patang am ba, lamuil lelang, marang lelang ho’ pi taunung o sel meng o tarang pa’ nu edun, honin pi baloe pi timu. Pi baloe pi timu ho tareng itito em tareng eirnu faling ut, pi taro fe u inung”
Kegiatan panen Padi dan jagung sudah selesai, kini kita sudah kembali kekampung dan suku masing-masing, sudah waktunya (bulannya) untuk upacara adat makan baru padi (ala baloe), jadi suku kapitang, suku marang mohon datang agar kita tentukan waktu untuk upacara ritual adat makan padi baru (ala baloe). Waktu untuk makan padi baru adalah apakah tujuh hari atau empat belas hari yang akan datang, mana yang kita sepakati.
2). Lamuil Lelang (Suku Kapitang)
“Niri ho mang u alepang, ari so bit”
Kami dengar dan kami taat, kanda yang titahkan .
3). Afen Lelang (Suku Raja)
“Honin he na u bang ba I alepang, fed o tareng eirnu faling ut he’e pi baloe”.
Kalau demikian dinda dengarkan apa yang saya sampaikan, empat belas hari yang akan datang, Kegiatan upacara adat makan padi baru di laksanakan.

Setelah musyawarah adat tersebut para kepala suku / delegasi pun kembali ke sukunya masing-masing dan menyampaikan hasil musyawarah di Bale Bale Adat (Bu De’k) kepada warga sukunya masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara adat makan padi baru (ala baloe) yang akan berlangsung empat belas hari yang akan datang.

Tahapan tahapan dalam upacara Adat Makan Padi Baru (Ala Baloe)
a). Persiapan
1. Ayahanda Raja dan Putera Mahkota (Juru Kunci Rumah Adat Lakatuil) mengambil posisi duduk di sudut kiri Bale-bale adat (Bu De’k) berdekatan dengan tiang pertama Rumah Adat Lakatuil (Ali Ob/Bel Beng Neod);
2. Kepala suku kapitang (Lamuil Lelang) mengambil posisi duduk di sudut kanan Bale-bale adat (Bu De’k) berdekatan dengan tiang ke empat Rumah Adat Lakatuil (Oil Ney La’an potang pa’pa’);
3. Kepala Suku Marang Lelang (Alemate & Foebe) mengambil posisi duduk di sudut kanan Bale-bale adat (Bu De’k) berdekatan dengan tiang ke empat Rumah Adat Lakatuil (Oil Ney La’an potang pa’pa’);
4. Kepala Suku Kafin Lelang duduk di bagian tengah Bu De’k.
5. Delegasi suku Mor Lelang duduk bersama-sama dengan Delegasi Suku Kafin Lelang.
Selain itu persiapan demi persiapan juga dilakukan oleh seluruh warga suku dirumahnya masing-masing antara lain;
6. Masing-masing keluarga dapat mempersiapkan diri di rumah suku yang ada dengan berpakaian adat tanpa kecuali.
7. Menyiapkan bahan antaran berupa padi baru yang telah diolah menjadi beras merah beserta bahan kelengkapan lain seperti, pinang muda, siri muda, umbi-umbian, pisang, ikan, ayam dan semua bahan makanan pokok hasil panen tahun ini;
8. Khusus suku kafin (Kafin Lelang) selain mempersiapkan bahan kelengkapan upacara ritual adat seperti tersebut diatas, juga wajib mempersiapkan serangkai pinang dan sepucuk tebu khusus dipikul oleh sulung suku kafin saat upacara puncak dilaksanakan;
9. Bagi ibu-ibu atau perempuan suku mengantarkan bahan ritual adat dari rumah suku yang satu ke rumah suku yang lain sebelum ada aba-aba dari maniro dengan tabuhan gong tanda kegiatan puncak ala baloe di laksanakan.
b). Pelaksanaan
Maniro (orang yang bertugas untuk memanggil atau komando).
Pada saat hari pelaksanaan, Maniro dipanggil menghadap ayahanda Raja/Raja menerima perintah berupa sebuah gong untuk ditabuh di atas mesbah sebanyak tiga kali dengan bahasa adat sebagai berikut :
O……o….o….o….o bangpalol lelang ifihing, pi ala taunung bu taunung pi baloe o..o..o.. (mi tou).
Wahai warga adat lima suku bampalola yang telah hadir agar segera mengumpulkan beras dan pinang muda, karena acara makan baru padi ala baloe segera dimulai (tiga kali).
O……o….aaaa,, Kapitang Marang, ala taunung bu taunung pi baloe o..o..o.. (mi tou).
Wahai warga warga suku kapitang dan marang, segera mengumpulkan beras dan pinang muda, karena acara makan baru padi ala baloe segera dimulai (tiga kali).

O…o…o… Afen, Kafin, Mor .. Taunung Pi Baloe Bang Leam o..o..o…
Wahai Suku afen, suku kafin dan mor … segera berkumpul untuk pergi ke rumah Adat Baloe Bang (rumah tempat kegiatan memasak padi baru).
O…o…o..aaa, Afen, Kafin, Mor Na Alal Pi Baloe Bang Leam o..o..oo.
Wahai warga adat Suku afen kafin, dan mor siap mengantarkan barang-barang bawaannya untuk sama-sama kita ke baloe bang; bawaanya berupa beras merah, pinang muda dan tebu.

c). Antaran oleh suku kapitang dan marang ke Rumah Adat Lakatuil
Setelah mendengar aba aba dari maniro, disusul dengan tabuhan benda adat berupa moko yg di tabuh oleh masing masing sulung suku di Bu De’k, maka :
1. Suku lamuil lelang kotta dan kotfal beserta marang lelang (Alemate dan Foebe) mulai mengantar hasil panen ketempat pelaksanaan upacara makan padi baru (ala baloe) yakni ke rumah adat situs fet lakatuil. Setelah sampai disana mereka diterima oleh sulung atau sesepupuh suku afen lelang.
2. Dalam penerimaan itu suku lamuil lelang (istri sulung suku) berkata:
“pi baloe o oul toh onemang patangam, a obul pep, a o balal pep, a o teng amihing, a o ba’ amihing nipuin ma med o teng mi o ba’ mi honin e pi puin baloe puin timu”.

Saat makan baru sudah tiba, jadi kanda siapkan segala tempatnya berupa bakul dan nyiru, semua bawaan sudah kami bawa kemari supaya kita gunakan untuk acara Adat Makan Padi Baru (Ala Baloe).
3. Sesepupuh atau sulung suku afen lelang (holo moka dan Hamsina Adang) menjawab:
“Ni oey mi o fet mi, o teng buang, o ba’ buang I puin hoam he e med oteng mi, o ba’ mi, med odong mi, o pasumi honin e pi o ur o fara puin tapeng u alol”.

Kami sedang duduk di tempatnya, sedang menjaga bakul dan nyirunya, jadi dinda sudah bawa silahkan isi pada tempatnya yaitu berupa bakul, nyiru dan periuk untuk dimasak agar buihnya dilihat sabagai ramalan hasil panen tahun depan.

Setelah itu semua bawaan dari Suku Lamuil Lelang diterima di depan Rumah Adat Lakauil, mereka sama sama masuk kedalam Rumah Adat Lakatuil Lewat Tangga Kanan Matahari Terbenam dan keluar melalui Tangga kiri (matahari terbit) dan Suku Lamuil Lelang beserta suku Marang kembali ketempatnya.
Setelah sampai di baloe bang (rumah suku lamuil lelang kot fal). Para sulung suku atau warga menabuh benda adat sebagai tanda mereka telah sampai dan tabuhan itu juga menandakan bahwa mereka telah siap menerima antaran balik dari suku Raja beserta rombongan suku lain;

d) Antaran ke Rumah Adat Baloe Bang (Suku Kapitang Kot Fal)
Rombongan suku Raja, suku kafin dan marang pun bergegas mengantarkan hasil panen yang telah terkumpul untuk diantar ke Baloe Bang (Tempat Memasak Padi Baru);
Sesampainya disana, Sesepuh atau sulung suku lamuil lelang kot fal mengikatkan sorban atau selimut ke kepala sesepuh atau sulung suku kafin yang membawa sebatang tebu yang masih utuh dengan daunnya dan serangkai pinang muda untuk perlengkapan baloe.dengan maksud sebagai sebuah penghormatan terhadap Suku Kafin (Saudara Perempuan Raja).
Setelah itu dilanjutkan dengan mengucapkan bahasa ritual adat sebagai berikut:
 Sulung suku kafin berkata:
“Sob dor bubar puin madong obang mi, o lelang mi a ufel uhor ano’ Baraka, honin e pi puin ip o engmi o fetmi, honin e o bu ho pi amud tun ma, tapeng maho u alol”.
Pucuk tebu dan rangkai pinang sudah dibawa ke tempatnya supaya memperoleh kekuatan dan barokah, kemudian dibawa turun ke tempatnya (fet lakatuil) supaya pinangnya itu dipakai untuk meramalkan hasil panen tahun depan.
– Sulung afen lelang berkata:
“Tun ong ho’omi pi o maad o puin noam, pihor hid lap am, o ul toh o nemang patang am, ni puin madong o bang mi o lelang mi o bulta obalalta, honin, e pi puin baloe puin timu”.
Hasil panen tahun ini sudah selesai, sudah sampai waktu (bulan dan hari) kini kami bawa datang ketempatnya supaya digunakan untuk kegiatan ritual adat makan padi baru (ala baloe).
– Sulung dari suku lamuil lelang kot fal berkata:
“ni obul pep, o balal pep oteng amihing, o ba’ amihing amba med oteng mi, oba’ mi”.
Kami sudah siapkan segala tempatnya, berupa bakul dan nyiru, jadi silahkan diisi ketempat yang sudah tersedia, supaya kita bawa turun ketempat pelaksanaan (fet lakatuil).
– Setelah itu suku afen, kafin dan mor serta marang kembali ketempatnya masing-masing.
– Ala Baloe Dou (memasak padi baru / beras merah) hasil pengumpulan beras baru dari kelima suku itu diterima dan dimasak untuk kegiatan upacara baloe (makan baru).

Masakan tersebut dilakukan dengan penuh kehati-hatian, sehingga buih yang naik itu dapat tertumpah pada semua arah atau lingkaran mulut periuk tanah, tujuannya adalah dilihat sebagai tanda hasil panen tahun yang akan datang akan memuaskan pada semua jalur, akan tetapi andaikata tidak merata maka itu pertada hasil panen tahun yang akan datang kurang memuaskan. Nasi yang sudah di siapkan dimakan terlebih dahulu oleh sulung atau sesepupuh dari kelima suku itu sebanyak sepuluh orang yang mana mereka ini belum diperbolehkan makan nasi baru sebelum Upacara Adat Ala Baloe itu dilaksanakan. Setelah itu barulah sisa nasi itu di makan oleh semua orang yang hadir dalam Upacara Ritual Adat tersebut saat itu.

e). Tun Tapeng U alol (meramal hasil Tanam & Panen Tahun Berikutnya)
Setelah semua kegiatan Baloe (Makan Padi Baru) dilaksanakan, dilaksanakan pula ramalan hasil tanam & panen tahun yang akan datang yaitu dengan cara:
1. Membelah pinang di dalam rumah adat dan menjatuhkannya ke tanah, Jika kedua belahan pinang tersebut terbuka semua, maka pertanda hasil panen tahun mendatang baik.
2. Jika kedua belahan pinang tersebut dijatuhkan dari atas satunya terbuka dan satunya tertutup maka pertanda hasil panen tahun mendatang kurang begitu memuaskan
3. Bila kedua belahan pinang itu dijatuhkan dari atas semuanya tertutup, maka pertanda hasil panen tahun mendatang tidak baik (gagal panen) atau disebut tahun hama.

Pantangan Dalam Proses Ritual Adat Makan Baru Padi (Ala Baloe)

Pantangan yang berlaku sebelum proses makan padi baru (Ala Baloe) dilaksanakan adalah, kelima kepala suku dari Suku Raja (Afen Lelang), Suku Kapitang (Lamuil Lelang), Suku Marang (Alemate dan Foebe), Suku Kafin Lelang dan Suku Mor Lelang di haruskan berpuasa terhadap Padi baru dan Pinang selama belum ada acara Adat Ritual Ala Beloe dilaksanakan.
Apabila kelima kepala suku tidak memenuhi syarat yang sudah ditentukan atau melanggar dengan sengaja ataupun tidak sengaja maka sanksi adat akan berlaku atas dirinya hingga mereka membayar denda adat atau menebus kesalahan mereka dengan membawa ayam dan beras merah serta kebutuhan lainnya kerumah adat lakatuil untuk dilakukan ritual penebusan kesalahan mereka.
Adapun sanksi yang langsung dialami oleh sulung suku/Kepala suku jika melangar sumpah adat tersebut diatas adalah sebagai berikut :
a. Lidahnya membesar dan panjang;
b. Perutnya kembung dan/atau diare; dan
c. Berbagai penyakit lainnya akan diterimanya tanpa ada obatnya:
d. Jika Yang melanggar belum juga menyadari kesalahannya maka akan berakibat pada kematian atau meninggal dunia.

Apabila acara ritual adat makan padi baru telah dilakukan atau sudah terlaksana barulah kelima kepala suku tersebut membatalkan puasa mereka dengan menyantap makanan ritual yang sudah di sediakan untuk pertamakalinya pada tahun panen tersebut.

Demikian sinopsi singkat upacara Ritual Adat Makan Padi baru (Ala Baloe) di desa Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut-Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur yang Kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk kita semua dari generasi ke generasi.
MAHENSAH … !

Majid Adang, S. Pd. I

(Penulis Sinopsis)

Sinopsis inilah yang diajukan oleh Dinas Kebudayaan Kab. Alor Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud, di Jakarta. Sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2019, menetapkan 5 Budaya NTT sebagai Budaya Bangsa Indonesia antara lain; 1. Tenun Ikat Sikka, Domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. 2. Marketcing, Domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan. 3. Alabaloe, Domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan 4. Kabalai, Domain Seni Pertunjukan. 5. Gawi, Domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan. Alhamdulillahirabbil’alaamiin. Atas KuasaNya, IradatNya dan AnugerahNya dengan ditetapkan Tradisi Ritual ALABALOE (Makan Padi Baru) sebagai salah satu Budaya Tak Benda Indonesia. Silahkan lihat YouTubenya RESMI… ALABALOE BAMPALOLA ¶ JADI WARISAN BUDAYA BANGSA INDONESIA√ di bawah ini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar