oleh

Pikiran dan Intelegensi


Dua kesalahan yang paling mendasar dari kebanyakan orang mengenai intelegensi adalah:
1. Kita meremehkan otak kita sendiri.
2. Terlalu menganggap hebat kekuatan otak orang lain.

Alhasil, kita sering kali merendahkan nilai diri kita sendiri. Dan ketika ada situasi yang menuntut dibutuhkannya “otak yang cerdas”, kita akan berkata, itu bukan untuk saya.

Dan akhirnya,.kesempatan tersebut diambil orang lain dan mereka berhasil.

Padahal, yang terpenting sebenarnya bukanlah kualitas intelegensi Anda.
Pikiran yang memandu intelegensi adalah JAUH LEBIH PENTING.
Intelegensi seperti pisau. Dan pikiran adalah tangan terampil yang menggunakan pisaunya.

Yakin dan fokuslah pada apa yang Anda punyai, dari pada mengagumi IQ/ intelegensi orang lain.

Tidak ada orang yang bodoh sampai akhirnya dia benar-benar mengakuinya.

Arahkan pikiran Anda.

KEBENARAN

Apa itu kebenaran? Banyak yang sampai hari ini masih mendebatkan kebenaran. Berlantang, berkoar, menulis dan bahkan turun ke jalan. Konon, semua adalah untuk kebenaran.

Bahkan para penjahat, koruptor, sampai pelaku bom bunuh diri sekalipun semua katanya bertindak untuk kebenaran. Semua ingin berada di sisi kebenaran.

Jika semua merasa benar, dan membela kebenaran. Lalu siapa yang salah dan harus dipersalahkan??

Bukankah harus ada yang bertanggung jawab atas kekacauan, atas kerusakan dan atas segala bentuk kemunduran?? Dan yang paling pantas untuk disalahkan adalah mereka yang melakukan hal yang tidak benar.

Tapi semua merasa benar saudaraku.

Sebentar kawan, tidak begitu. Kebenaran itu adalah nilai yang pasti, konstanta. Dia tidak akan dipengaruhi oleh opini, perdebatan dan argumen cerdas ala memainkan kata-kata dan retorika.

Karena kebenaran yang kita tahu, itu telah berwujud 3 macam.
Pertama, benar menurut diri sendiri.
Kedua, benar menurut orang banyak.
Ketiga, benar yang hakiki.

Dan kamu pasti tahu dengan sejujurnya, mana kebenaran yang benar.

Maka jika kelak kamu bertemu lagi dengan perdebatan. Jangan kamu ambil benarmu sendiri, apalagi benarnya orang banyak ala demokrasi. Tapi ambil lah kebenaran hakiki. Yang sudah digariskan oleh Allah tuhan semesta alam dan kanjeng nabi.

Insyaallah..

Klaten, 1 Maret 2016
Andre Raditya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *