oleh

Berhati-hatilah Dalam Berucap, Meski Hanya di Dalam Hati



Seseorang pernah bercerita kepada saya, kurang lebih ia berkata,

“Gua dulu, waktu pas di kantor lama, pernah ngeliat daftar utang karyawan koperasi di kantor gua itu. Gua liat ada nama seorang atasan yang berhutang hingga puluhan juta. Gua berkata dalam hati dengan sedikit meremehkan, ini atasan gaji gede tapi utangnya gede banget, riba pula.”

Ia pun melanjutkan ceritanya,

“Beberapa tahun kemudian, gua pindah kerja. Gua pun terlilit hutang yang cukup besar, kalo gua inget-inget, kurang lebih jumlahnya hampir sama dengan utang atasan yang gua ceritain tadi.”

“Gua juga ngutangnya riba, lewat bank.” Ucapnya sedih.
“Sekarang gua lagi berusaha ngelunasin utang ini secepatnya, ngeri sama dosa riba. Doain gua ya bro…”, Tutupnya mengakhiri pembicaraan.

Kita flash back kembali melintasi waktu ke awal abad hijriyah, yakni sekitar abad pertama di tahun hijriyah.

Terdapatlah seorang ulama yang bernama Muhammad bin Sirin rahimahullah. Ia sedang berdiam di penjara dikarenakan terlilit oleh hutang yang banyak.

Beliau rahimahullah berkata, “Sungguh aku mengetahui dosa yang menjadikan aku ditimpa musibah ini. Aku telah mengejek seseorang empat puluh tahun yang lalu, aku berkata kepada orang tersebut, ‘Wahai si bangkrut’.”

Ustadz Boris Tanesia Seseorang pernah bercerita kepada saya, kurang lebih ia berkata,

“Gua dulu, waktu pas di kantor lama, pernah ngeliat daftar utang karyawan koperasi di kantor gua itu. Gua liat ada nama seorang atasan yang berhutang hingga puluhan juta. Gua berkata dalam hati dengan sedikit meremehkan, ini atasan gaji gede tapi utangnya gede banget, riba pula.”

Ia pun melanjutkan ceritanya,

“Beberapa tahun kemudian, gua pindah kerja. Gua pun terlilit hutang yang cukup besar, kalo gua inget-inget, kurang lebih jumlahnya hampir sama dengan utang atasan yang gua ceritain tadi.”

“Gua juga ngutangnya riba, lewat bank.” Ucapnya sedih.
“Sekarang gua lagi berusaha ngelunasin utang ini secepatnya, ngeri sama dosa riba. Doain gua ya bro…”, Tutupnya mengakhiri pembicaraan.

Kita flash back kembali melintasi waktu ke awal abad hijriyah, yakni sekitar abad pertama di tahun hijriyah.

Terdapatlah seorang ulama yang bernama Muhammad bin Sirin rahimahullah. Ia sedang berdiam di penjara dikarenakan terlilit oleh hutang yang banyak.

Beliau rahimahullah berkata, “Sungguh aku mengetahui dosa yang menjadikan aku ditimpa musibah ini. Aku telah mengejek seseorang empat puluh tahun yang lalu, aku berkata kepada orang tersebut, ‘Wahai si bangkrut’.”

Ustadz Boris Tanesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *