oleh

Aku adalah Pakaianmu, dan Engkau adalah Pakaianku

ALORPINTAR. COM “Teeng…, teeeng…., “Terdengar denting bunyi jam 10 kali, menandakan jam 10.00 malam Tanpa mengetuk pintu, seraya mengucapkan salam secara lirih, Syamsu masuk rumah, setelah seharian berjibaku bekerja.

Tak ada orang yang menjawab, Dia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Diletakkanlah tas, ponsel dan kunci-kunci di meja.

Setelah itu, barulah Syamsu menuju kamar mandi sekalian kemudian berganti pakaian. Semua tertidur pulas, tak ada satu-pun yang terbangun. Segera dia beranjak menuju kamar tidur.

Pelan-pelan dibukanya pintu kamar. Dia tidak ingin menggangu istrinya yang sedang pulas tidur. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadiran suaminya. Kemudian Syamsu duduk di pinggir tempat tidurnya.

Dipandanginya dalam-dalam wajah Kamaria istrinya.Syamsu teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah. Ayahnya berpesan : “Jika kamu sudah menikah nanti: Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu, karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu, karena suami istri adalah dua orang yang berbeda.Dia bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Dan… Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, Maka, lihatlah ketika istrimu tidur…”

“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?” tanyaku kala itu. Ayah menjawab : “Nanti kamu akan tahu sendiri” Waktu itu, aku tidak sepenuhnya memahami maksud ayah, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayah sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam itu, Syamsu mulai memahaminya. Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat.

Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, Dia bergumam,“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis:

Yang leluasa beraktivitas,

Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri.

Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit.

Memberikanmu banyak batasan,

Mengaturmu dengan banyak aturan. Dan aku pula.

Yang menjadikanmu seorang ibu.

Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan.

Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku.. Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, kini aku memberikan beban di tanganmu, dan di pundakmu.

Untuk mengurus keperluanku,

Guna merawat anak-anakku, juga

Memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku. Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku. Kau buang egomu untuk mentaatiku. Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku. Wahai istriku.

Di kala susah, kau setia mendampingiku.Ketika sulit, kau tegar di sampingku.Saat sedih, kau pelipur laraku.Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku. Kala aku bimbang, kau penguat tekadku. Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika aku salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku.. Telah sekian lama engkau mendampingiku. Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?!

Dengan alasan apa aku marah padamu..?!

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan. Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan air mata.

Akulah yang harus membimbingmu.

Aku adalah Imammu. Jika kau melakukan kesalahan.

Akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, akulah yang seharusnya menutupinya. Aku laksana pakaianmu, yang menutupi apapun kekurangan yang ada pada tubuhmu.

Kau insan, bukan malaikat, yang tentunya engkau miliki kekurangan seperti akupun yang banyak memiliki kekurangan. Maafkan aku istriku..

Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhaan-Nya.

Segala puji hanya untuk-Nya yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku. ”Tanpa terasa air matanya menetes di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

“Teeng..teeng..” Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Kamaria, istri Syamsu terbangun sesuai dengan kebiasaannya, terbangun untuk bermunajat bersama suami di sepertiga malam terakhir. Sering, Kamaria dibangunkan oleh suaminya. Kali ini, ia terbangun sendiri. Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya.

Pelan-pelan ia duduk, sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan. “Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia..?!”

Gumamnya dalam hati. Sebelum ia bangunkan suaminya untuk ikut bermunajat bersama, ia pandangi terlebih dahulu wajah suaminya. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya hatinya yang bicara :

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi Imamku.

Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku. Ketika aku sendirian. Kau datang menghampiriku.

Saat aku lemah. Kau ulurkan tanganmu menuntunku.

Dalam duka. Kau sediakan dadamu untuk merengkuhku.

Dengan segala kemampuanmu.Kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku. Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.

Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu.

Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal, tidak menyurutkan langkahmu.

Nafkah, yang lebih banyak kau gunakan untuk keluarga mu daripada kau gunakan untuk dirimu sendiri. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak. Lalu…, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu.

Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapa pun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari ikhtiarmu. Kesungguhan dan tekadmu beramal shaleh, menasehatiku, mengajakku dan anak-anak istiqamah di jalan-Nya, itu sangat membanggakanku dan membahagiakanku.

Jika ada kekurangan pada dirimu, akulah yang seharusnya menutupinya.

Aku laksana pakaianmu, yang menutupi apapun kekurangan yang ada pada tubuhmu.

Kau insan, bukan malaikat, yang tentunya engkau miliki kekurangan seperti akupun yang banyak memiliki kekurangan. Maafkan aku wahai suamiku.

Akupun akan memaafkan kesalahanmu. Segala puji hanya untuk-Nya, yang telah mengirimmu menjadi Imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati-Nya. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridha-Nya.

Semangat pagi Jumat berkah

Semangat sedekah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar