oleh

Isra Mi’raj Dalam Pandangan Ilmu Pengetahuan

ALORPINTAR.COM Peristiwa perjalanan malam hari Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah (Arab Sadi) ke Masjidil Aqsha (Palestina), bukan kehendak beliau, melainkan kehendak Allah. Itulah mukjizat beliau. Ilmu pengetahuan modern pun mampu membuktikan kebenaran peristiwa tersebut

Adalah Teori Anihilasi. Teori tersebut menyatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki antimaterinya. Jika materi dipertemukan/direaksikan dengan antimaterinya, kedua partikel tersebut akan lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama.

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1). Itulah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan atas izin Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dilanjutkan ke Sidratul Muntaha.

Perjalanan luar biasa itu bukan atas kehendak Nabi Muhammad (Rasulullah) SAW, melainkan kehendak Allah. Untuk itu, Allah mengutus malaikat Jibril (makhluk berdimensi 9) dan malaikat lainnya sebagai pemandu perjalanan suci tersebut. Dipilihnya malaikat sebagai pemandu perjalan dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi ruang dan waktu tersebut.

Selain Jibril dan kawan-kawan, dihadirkan pula kendaraan khusus, Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut. Nama Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Perjalanan dari Mekah ke Palestina dengan Buraq tersebut ditempuh dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilometer per detik.

Atas peristiwa tersebut, muncul pertanyaan, “Bagaimana bisa sebuah perjalanan dengan kecepatan cahaya itu dilakukan oleh badan Rasulullah SAW. yang terbuat dari materi padat?“

Untuk malaikat dan Buraq tidak ada masalah, sebab badan mereka terbuat dari cahaya pula. Seandainya badan bermateri padat seperti tubuh kita dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya, mungkin badan kita akan tercerai-berai. Sebab, ikatan antarmolekul dan atom bisa terlepas.

Jawaban paling mungkin atas pertanyaan tadi adalah tubuh Rasulullah SAW diubah susunan materinya menjadi cahaya. Bagaimana hal itu terjadi? Teori yang memungkinkan adalah Teori Anihilasi, yang menyatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki antimaterinya.

Jika materi direaksikan dengan antimaterinya, kedua partikel (materi) tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma. Maka, ketika seseorang melaksanakan perjalanan dengan kecepatan cahaya, susunan materi tubuhnya diubah dahulu menjadi cahaya.

Manusia dengan badan materi padat, jika dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya (300.000 km/detik), kemungkinan badannya akan tercerai berai karena ikatan antarmolekul dan atom dapat terlepas. Jika seseorang yang telah diubah susunan materinya menjadi cahaya, kemudian bergerak dengan kecepatan cahaya, sesampainya di tempat tujuan, ia akan kembali menjadi manusia dengan materi padat.

☄️Semoga Allah senantiasa ridha menganugerahkan kepada kita semua: keselamatan dan rahmat, kesehatan dan kebahagiaan, umur panjang penuh berkah, rezeki halal, kemudahan mengarungi kehidupan dunia.

memperingati Isra Mikraj, 27 Rajab 1443/28 Februari 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *