oleh

Berbicaralah Yang Baik-baik Saja

Bismillahirrahmanirrahim

SALAH satu ciri orang beriman adalah berkata baik. Hal itu dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.”(HR. Bukhari). Berkata baik disampaikan dengan cara yang baik.

CARA bicara yang baik adalah cara yang tidak membuat orang lain tersinggung, kecewa, berkecil hati, kesal, malu, sakit hati, marah, dan reaksi negatif lainnya. Caranya adalah dengan (1) selalu memelihara harga diri orang lain, (2) tidak membentak, (3) tidak menakut-nakuti, (4) tidak memarahi, (5) tidak meremehkan, (6) tiddak merendahkan, (7) tidak mempermalukan, (8) tidak menyinggung perasaan, (9) tidak menuduh.

BAHKAN, secara tegas, Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Seorang mukmin (beriman) bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk.” (HR. Bukhari dan Al Hakim).

PUN pula dengan firman Allah, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al Baqarah: 263)

BERTUTUR kata baik dan santun merupakan cerminan akhlak seorang muslim yang membawa kedamaian bagi dirinya maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya. Bertutur kata yang baik dan santun diterapkan kepada siapa pun lawan bicara, baik orang tua, sesama atau kepada orang yang usianya berada di bawah.

MANFAAT yang bisa diperoleh seorang yang berkata baik dan santun antara lain menjadikan seorang lebih tenang. Hal itu sesuai dengan pesan Alquran ini, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku,” ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.’” (QS Al Israa: 53).

KITA dituntut untuk berperilaku dan beretika terbaik dalam sikap keseharian yang dimulai dari sikap terhadap pribadi, keluarga, tetangga hingga masyarakat. Lidah memang tidak bertulang sehingga ia bisa secara fleksibel digunakan oleh manusia untuk berbicara. Namun, jika tidak disertai dengan kendali diri, maka dari ucapan yang menyakitkan akan lebih dahsyat daripada luka dengan sebilah pedang.

LUKANYA akan melekat dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa sampai ajal memisahkan nyawa dari raga. Karena itu, pergunakanlah dengan bijak, hanya untuk hal-hal bermanfaat dan menjauhkan diri dari akibat yang bisa merugikan.

ALLAH befrmaan, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS Al Mukminuun: 1-3).

SEMOGA Allah senantiasa rida menganugerahkan kepada kita semua: keselamatan dan rahmat, kesehatan dan kebahagiaan, umur panjang penuh berkah, rezeki halal, serta kemudahan mengarungi kehidupan dunia.

Alhamdulillahirabbil’alamiin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *