oleh

Ibu Sebagai Guru Pertama Dalam Pendidikan

Fawaid dari “Parenting ‘ Ibu Madrasah dan Ayah Kepala Sekolah ‘,” yang disampaikan oleh: Guru dr. Raehanul Bahraen -hafidhahullah- di Masjid Al Bahri di Lembaga Pendidikan Ponpes Imam Syafi’i, Genteng, Banyuwangi:


Materi ini terambil dari buku yang ditulis oleh Al-Ustadz, dan buku ini adalah dari curhat beliau pribadi. Beliau pernah lalai dalam mendidik anak sebab sibuk kerja dan dinas serta safari da’wah di berbagai wilayah sampai perbatasan Indonesia, sehingga sedikit pendidikan yang diberikan kepada anak. Sampai beliau mendapat nasehat seorang syaikh dan beliau menyampaikan ayat: “Berilah peringatan kepada keluarga mu yang terdekat”. Al-Ustadz tersadarkan bahwa da’wah dan mendidik kepada keluarga itu fardhu ‘ain sedangkan da’wah kepada masyarakat umum itu adalah farhu kifayah. Bagaimana kiranya sebagaimana dalam hadits:

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ada seorangpun di antara kalian kecuali ia akan diajak bicara oleh Rabb-nya. Tidak ada antara keduanya penerjemah dan penghalang yang menghalanginya”.

Sehingga beliau kurangi jadwal-jadwal kegiatan dan lebih fokus pendidikan untuk keluarga, ta’lim khusus untuk keluarga dan menerima setoran hafalan anak-anak dan istri.

Disayangkan pula para ikhwan yang sibuk pengajian sama teman-temannya ke sana kemari (jauh-jauh) sehingga lalai mendidik keluarga sendiri.

Sebagian orang berpikir, kalau istri udah ngaji berarti sibuknya ngurus uang saja. Ini salah…. Sang kepala keluarga tetap harus membimbingnya. Karena wanita tabi’atnya bengkok.

Dan kita semua akan ditanya bagaimana pendidikan kita kepada keluarga kita. Tidak bisa dalil, tidak bisa bahasa Arab bukan alasan untuk meninggalkan pedidikan kepada keluarga. Tetapi kepala keluarga dituntut untuk mendidik dan membimbing keluarga.

Jangan sampai orang tua keduluan dari Gurunya untuk mengajari alif, ba’, ta’… dan Surah Al-Fatihah. Bila tidak, maka ini rugi besar. Karena Al-Fatihah ini dibaca dalam sehari minimal 17 kali sehari semalam. Sehingga kalau ini tidak diajarkan oleh orang tua maka dia akan kehilangan saham besar… Rugi besar…

Al-Fatihah ini bahkan akan dibaca saat mensholati jenazah kita oleh anak-anak kita. Coba perhatikan ini, terutama bagi para aktivis da’wah. Da’wah dan pendidikan kepada keluarga lebih wajib dan lebih besar pahalanya di sisi Allah.

Istri tabi’atnya bengkok, perlu dibimbing dan diarahkan. Baik diajak ikut pengajian bareng, ato kita sendiri yang ngajarin. Selesai pengajian Guru sampaikan hasil materi pengajian kepada keluarga meski 10 menit. Majlis dibuka dengan khutbatul hajah agar dinaungi Malaikat lalu dbacakan dan perbaiki bersama-sama.

Suami juga harus perhatikan bimbingan kepada istri, karena dia tabi’atnya bengkok, maka dibuatlah suasana yang nyaman dan menyenangkan dengan istri. Bahagiakan istri. Jangan berpikir bisa membuat anak-anak cerdas dan shalih-shalihah kalau tidak membahagiakan istri. Oleh karenanya, inilah sebabnya lembaga-lembaga pendidikan memfasilitasi para pengajar senyaman mungkin.Ini kaitannya dengan keluarga dan anak-anak didiknya. Adapun kesimpulan dari Ibu Sebagai Generasi Pertama Dalam Pendidikan adalah;

  1. Anak-anak nakal karena kurang perhatian orang tua. Penyebab kerusakan anak adalah disebabkan kelalaian orang tua. Anak adalah titipan Allah, jangan dititipkan lagi kepada orang lain (misalnya ke mertua, apalagi ke pembantu, bahkan jangan sudah merasa aman bila anak sudah dititipkan ke pondok, tetap harus ada komunikasi). Dari ini semua, yang jadi contoh utama adalah sang ayah.
  2. Memilih lingkungan yang baik untuk anak dan istri.
  3. Inti pendidikan anak adalah menjauhi teman yang buruk.
  4. Mendidik anak di rumah termasuk meniti karir bahkan karir utama (terutama bagi sang ibu)
  5. Memperhatikan pendidikan anak dan istri.
  6. Keutamaan banyak anak bila dididik dengan baik
  7. Pahala mendidik anak sangat besar.
  8. Anak mu lah yang paling tulus mendoakan (bila anak-anak tidak punya kenangan indah dengan orang tua dan tidak punya pendidikan agama yang baik bagaimana dia mendoakan).
  9. Bahagiakan istri agar anak shalih dan berakhlak.
  10. Ajarkan kepada anak-anak ilmu tauhid.
  11. Doa anak bisa jadi kurang bermanfaat karena doa anak adalah:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

“Wahai Rabb-ku ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

Sehingga Allah akan balas orang tuanya sebagaimana tarbiahnya kepada anaknya)

(Ditulis oleh: Ahmad Muzaqi, SH)

Telah diedit oleh Admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *