oleh

Trik Hadapi Anak dan Gadget-Nya

“Bu lsha, bagaimana kita bersikap kepada anak kita yang selalu menyendiri dengan HP-nya?”

Kita harus mengetahui dan memahami’ karena sekarang adalah generasi digital,maka anak akan susah terlepas dari gadget-nya.

Itulah generasi sekarang.

Sebagaimana saya dulu’ sebagai anak kelahiran tahun 60-an saya adalah anak buku. Ke mana-mana saya membawa buku, baik buku cerita, majalah, atau koran’ Majalah Bobo itu sampai lusuh saya bawa ke mana-mana.

Maka yang pertama, kita pahamidulu eranya

Yang kedua, posisi gadget itu sekarang adalah seperti kita dahulu bahwa buku itu adalah jendela dunia

Nah, sekarang, gadget adalah jendela dunia

Apa yang anak mau cari ada di situ

lni harus kita pahami terlebih dulu

Ada perbedaan medianya.

Perbedaan media terhadap sebuah generasi.

Adapun bahwa kita senang mencari ilmu, senang mencaritahu. itu sama. Tapi perubahan generasi dengan media teknologinya berbeda.

Itulah terlebih dahulu yang harus kita pahami agar para rnerasa tenang. Agar orang tua merasa tenang.

Kenapa?

Karena belum tentu anak kita menyendiri dengan gadgetnya. itu cuma untuk main saja.

Belum tentu!

Siapa tahu dia sedang mengerjakan tugas.

Apalagi sekarang itu apa-apa online. Apa-apa pakai gadget.

Bisa jadi dia sedang muraja’ah. Bisa jadi dia sedang menghafal Al-Qur’an. Karena anak-anak sekarang itu lebih senang rnenghafalkan Al-Qur’an dengan gadget. Karena mudah diakses. Kalau kita mau mendengarkan bagaimana cara membaca nya, tinggal dipencet, lalu keluar suara. Ketimbang misalkan mereka mernbawa mushaf langsung. Karena terkadang mereka juga takut kalau membawa mushaf nanti salah meletakkan, salah menaruh, ditaruh di bawah atau di kaki.

Itulah yang membuat saya suka bertanya.

“Kenapa kamu suka mengajinya lewat gadget?”

“Karena mudah diakses Bu, mau dengar langsung, sebab tidak ada guru di samping kita. Mau tanya lbu juga enggak ngerti?

“Oh begitu?”

“lya Bu. Tinggal kita pencet, lalu terdengar suara bagaimana cara melafazkan ayat-ayat itu. Supaya tidak salah baca

Maka berbaik sangkalah kepada anak ketika dia sedang menyendiri menggu nakan gadget-nya.

Lebih baik kita fokus mencaritahu apa bahasa kasih anak kita, lalu kita chorgedi situ. sehingga anak-anak juga mencari kita untuk men-charge bateraitanpa dia sadari.

Misalkan, anak saya ada yang bahasa kasihnya adalah sentuhan, pelukan. sewaktu dia masih SMA dan banyak bimbel di kamar, dia pegang gadget-nya terus. Nanti ketika dia keluar kamar, dia mencari saya dan memanggil, “Ibu!”

Maka saya tahu bahwa berartidia minta di-charge’

Maka saya peluk dia. Karena bahasa kasihnya adalah sentuhan, pelukan.

Dia akan mencari kita, bahkan ngobrol dengan ibunya setelah dipeluk.

Anak saya yang pertama, Mas Lanang, yang bahasa kasihnya pujian juga seperti itu.

Karena dia sudah besar dan eranya adalah era gadget, dikamarnya dia mengerjakan macam-macam. Kadang menjawab pertanyaan-pertanyaan kliennya, atau dia rnembuat konten kesehatan masyarakat.

Nah, ketika dia keluar dari kamarnya, “lbu!”

“Eh, Mas Lanang, sedang membuat apa Nak?”

“Buat konten watak Bu!’

“Masya Allah,keren!”

Dia akan mencari kita, dan dia yang akan cerita apa yang sedang dilakukan.

Untuk itulah, kita harus selalu berusaha melakukan pendekatan kepada anak, daripada kita selalu curiga, “Aduh, dia sedang apa ya? Dia sedang melakukan apa ya?”

Itu malah akan membuat kita pusing.

Jika anak mencari kita kemudian kita tanya, “Kamu ngapain saja tadi Nak,” lalu dia bercerita, maka terimalah cerita itu bahwa dia telah bercerita dengan sungguh-sungguh.

Karena ada orang tua yang anaknya sudah bercerita jujur, malah orang tuanya mengatakan, “Bohong!” Nah, itu akan menjadi masalah.

Maka sebagai orang tua, amat penting bagi kita untuk mengucapkan hal yang baik, dan dia melihat perilaku kita yang baik.

Itu saja sudah sangat luar biasa ketika kita menjadi orang tua yang selalu mendampingi mereka.

Sumber : Maukah Orang Tua Bahagia?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar