oleh

Trik Hadapi Anak Yang Ketergantungan Dengan Gadget-Nya

“Bu lsha, bagaimana sih teknik mengontrol HP yang dipakai anak?”

Jika anak kita belum baligh, rnaka kita masih punya kuasa penuh untuk mengontrol apa yang mereka lihat di gadget_nya, atau di HP-nya.

Itu masih bisa banget.

Tapi jika anak kita sudah baligh, sudah menstruasi atau sudah mimpi basah, dan sudah nampak gejala-gejala sekunder bahwa dia sudah mulai remaja, terlalu mengontrol harus kita kurangi.

Terlalu “kepo” harus kita kurangi.

Justru pada saat anak sudah murai remaja, yang harus kita kuatkan adalah hubungan bagaimana kita bisa lebih dekat dengannya untuk mengobrol, sehingga bukan kita yang mengecek HP-nya, tapi malah dialah yang bercerita.

Jika saya ditanya bagairnana caranya untuk mernantau screen time (jumlah waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi dengan layar HP), anak-anak saya saat ini sudah besar-besar. dan saya tidak tahu serta tidak pernah memantau. Tapi saya mencoba menjadi ibu yang anak-anaknya berani bercerita kepada saya. Maksudnya, dia tidak takut bercerita kepada saya.

Saya tidak pernah melihat Hp anak-anak. Tapi akhirnya, saya tahu dari cerita mereka. Mereka sedang bermain apa, mereka sedang mengerjakan apa, mereka chatting dengan siapa, dan seterusnya.

Merekalah yang bercer-lta kepada saya.

Adapun sewaktu anak-anak saya belum baligh, saya betul-betul mengontrolnya. lni adalah saya banget. Bahkan, buku-bukunya saja saya periksa. Apalagi saat itu saya sudah mengurus narkoba. saya takut tas anak-anak dimasukkan botol sabu atau apa pun.

Tapi ketika mereka sudah baligh, mereka Saya hanya memberikan bimbingan-bimbingan panduannya saja.

Hal inijuga sebagaimana seperti dulu saat saya baligh.

Zaman dulu belum ada gadget. Lalu apa yang saya lakukan?

Menulis di buku diary.

Nah, jika seandainya buku diary saya dibaca oreh ibu saya, saya juga akan mengamuk.

Makanya kadang buku diary itu ada gemboknya.

Biasanya jika buku diary kita dibuka oreh ibu, kita rangsung panik dan merebutnya. Tapi kita tidak berani berbicara seperti anak-anak sekarang. Kita hanya cemberut saja. Karena merasa itu adalah privasi kita.

Adapun ibu saya, walaupun melihat buku diary saya, beliau enggak berani membuka. Itulah yang membuat saya sangat respek kepadanya, dan saya matah jadi ingin cerita kepada ibu saya.

Waktu itu saya masih SMP.

saya mengatakan kepada ibu saya. “Aisah cuma menulis cerita-cerita saja Bu. lbu mau lihat enggak?

Oleh karena itu jika anak-anak sudah mulai baligh, kita jangan terlalu “kepo”.

Karena nanti dia tidak percaya kepada kita.

Apa-apa kita kontrol dia, apa_apa kita awasi dia.

Lebih baik dia yang mengadu dan cerita sendiri kepada kita.

Nah, jika anak-anak ibu belum baligh, maka silahkan. Kita mempunyai

100% power untuk mengontrol dia. Dan si anak senang.

Kemudian, bagi para orang tua, mulailah untuk belajar sedikit tentang gadget, sebagaimana jika dulu ibu saya juga membaca majalah GADIS, majalah HAl, dan sebagainya. Karena saya jadi merasa bangga saat melihat ibu saya juga membaca majalah HAI atau majalah GADIS. sebenarnya hampir sama, cuma medianya saja yang berbeda.

Misalkan, kita mempelajari sedikit tentang game online.

Supaya apa?

Supaya kita bisa mengobrol banyak dengan anak.

Jika anak perempuan, biasanya dia jarang main game online. Anak perempuan lebih senang menonton video, musik. Maka kita bisa mencari tahu sedikit, apa sih Korean Pop (K-Pop) itu? Lalu misalkan, siapa sih BTS itu?

Jika saya ngomong sedikit saja, Nak. Jung-kook tambah ganteng sekarang ya?

“lh, lbu kok tau Jung-kook BTS. Keren.”

Nah, ini juga sebagaimana dulu ketika ibu saya cerita tentang Harvey Malaihollo, maka saya langsung mengatakan, “ya Allah, lbu tahu juga Harvey Malaihollo?”

Seperti itu.

Kita tentu tahu bahwa uswah hasanah anak kita adalah Rasulullah SAW. Tapi ada masa-masa di saat remaja, saat SMP dan SMA, dia mencoba melihat contoh-contoh yang ada di depannya.

Jika dari kecil anak kita sudah dimasukkan suri teradan Rasulullah dengan cara menyampaikan sirah Nabi, menyampaikan akhlak-akhlak Rasulullah, maka tenanglah.

Kenapa?

Karena setelah remaja, dia akan kembali lagi kepada uswah hasanah-nya, yaitu Rasulullah SAW.

Disaat remaja, SMP atau SMA, kadang anak senang dengan yang sedang tren di masanya. Seperti saya yang pada saat remaja senang dengan Chrisye, Harvey Malaihollo, Denny Malik, dan lainnya. Tapi seterah mahasiswa, semua itu hitang. Kita kembari kepada uswah hasanah kita yang utama, yaitu Rasulullah SAW.

Maka untuk para orang tua, tenanglah!

Bagaimana Jika Ada Anak yang Nangis, kemudian Diam saat

Diberikan HP?

Jika ada anak yang menangis, kemudian diam saat diberikan HP, itu sama saja seperti anak zaman dahulu, saat menangis lalu diberikan mainan misalkan, dia diam. Atau diberikan majalah misalkan, dia diam.

Apa artinya?

Ada era di saat itu ketika semua orang membaca majalah. Majalah Bobo, misalkan.

Adapun saat ini, semua orang memegang HP, memegang gadget. Dan itu amatlah berpengaruh.

Terutama yang perlu diperhatikan, kapan dan bagaimana orang tua memperkenalkan Hp kepada anak?

Jika terlalu dini, maka akan susah.

Karena diotak manusia itu terdapat neuron cermin.

Apalagi jika ada anak yang belum belumur 2 tahun sudah diperkenalkan gadget. pasti akan ada konsekuensinya.

Namun, ada pula orang tua yang berprinsip bahwa anak tidak boleh memegang gadget hingga dia belumur 2 tahun.

Dan biasanya, orang tua yang berprinsip seperti itu, ketika anaknya belumur 3 atau 4 tahun menangis, karena orang tuanya terbiasa mengalihkannya pada bukan gadget, maka si anak menjadi lebih mudah diamnya.

Tapi jika dari awar kita selalu menyodorkan gadget atau HP kepada anak, ketika kita mencoba mengarihkannya pada bukan gadget, tidak akan mempan, karena belum terbiasa.

Adapun saya, sewaktu anak-anak sudah mulai banyak bermain gadget, di rumah saya coba memperbanyak permainan-permainan tradisional, beli congklak, beli karambol, beli bola basket dan saya bolehkan bermain basket di dalam ruang tamu.

Kalau perlu beli gawang lalu ditaruh di ruang tamu.

Supaya apa?

Supaya dalam 24 jam dikurangi waktu tidur, ada menit-menit atau jam-jam untuk mereka bermain non gadget.

Dan sekarang, anak-anak saya sedang senang-senangnya bermain catur. Saya mendukung banget. Maka kondisi-kondisi seperti ini memang sangat dipengaruhi oleh kreativitas kita. Kita harus terus kreatif !

Sumber : Maukah Orang Tua Bahagia?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *